Langit itu tidak pernah berubah, pikir Arman, seraya menatap awan-awan yang menggantung rendah, seolah sedang mengintip dari balik atap rumah bata merah di depannya.
Rumah itu tampak seperti berhenti di waktu. Sama seperti dua belas tahun lalu, saat dia terakhir kali menutup pintunya dengan hati penuh amarah dan luka.
Arman menarik napas dalam-dalam. Tangan kanannya menggenggam koper kecil yang penuh dengan barang-barang seadanya. Langkahnya ragu-ragu, tetapi kakinya terus membawa dia ke depan. Suara angin yang bertiup lembut di antara pepohonan bercampur dengan suara derit tiang listrik yang sudah tua.
Semua terasa seperti menyapa, tetapi juga menghakimi. "Kenapa baru sekarang?" seakan mereka bertanya.
Arman berdiri di depan gerbang kayu yang mulai lapuk, tangannya bergetar saat mencoba membuka pintu kecil itu. Begitu gerbang terbuka, aroma khas halaman rumah itu menyergapnya – campuran tanah basah, dedaunan, dan sedikit aroma kayu yang menguar dari teras rumah.
Ingatannya melayang ke masa kecil, ketika dia dan adiknya, Laila, berlarian di halaman ini, tertawa tanpa beban.
“Kakak, tangkap aku kalau bisa!” suara tawa Laila yang nyaring masih terngiang di telinganya.
Tapi semuanya berubah pada hari itu, hari ketika mereka bertengkar hebat di depan orang tua mereka. Kata-kata yang seharusnya tidak pernah terucap terlontar begitu saja, menghancurkan hati Laila. Dan saat Arman pergi meninggalkan rumah, dia tidak pernah menoleh lagi.
Ketukan pintu kayu itu menggema di seluruh rumah. Arman berdiri di sana, menunggu. Tidak ada suara langkah kaki, hanya sunyi. Dia mencoba lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Pintu itu akhirnya terbuka perlahan, memperlihatkan wajah tua seorang wanita yang dia kenal begitu baik, tetapi kini tampak lebih lelah dan penuh keriput.
Mata ibu mereka yang dulu selalu bersinar kini terlihat suram, tetapi saat bertemu dengan mata Arman, ada secercah cahaya yang muncul.
“Arman,” suaranya serak, hampir berbisik.
Arman tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk, bibirnya gemetar. Dia ingin mengatakan sesuatu – maaf, rindu, atau apapun – tetapi tidak satu pun kata keluar.
Sang ibu memeluknya erat, dan dalam pelukan itu, Arman merasakan betapa besar kerinduan yang terpendam selama bertahun-tahun. Namun, satu sosok yang ingin dia lihat belum juga muncul.
“Laila ada di dalam,” kata ibu mereka dengan suara pelan, seolah tahu apa yang ada di pikiran Arman.
Dia masuk ke ruang tamu, yang masih sama seperti dulu. Foto keluarga tergantung di dinding, salah satunya adalah foto Arman dan Laila saat masih kecil, dengan senyum lebar yang tampak begitu tulus.
Dia memandangi foto itu lama, lalu berbalik ketika mendengar langkah ringan di belakangnya. Laila berdiri di sana, mengenakan gaun sederhana berwarna krem, dengan wajah yang tidak lagi semuda terakhir kali dia lihat.
“Kak Arman,” katanya, suaranya bergetar. Tidak ada senyum di wajahnya, tetapi juga tidak ada amarah.
Arman merasakan dadanya sesak. "Laila," katanya pelan, tetapi tidak tahu harus melanjutkan dengan apa.
Dia ingin meminta maaf, tetapi kata-kata itu terasa terlalu kecil untuk menebus luka yang dia tinggalkan. Dia ingin memeluk adiknya, tetapi kakinya terasa terpaku di lantai.
“Kenapa baru sekarang? Tahukah Kakak berapa lama aku menunggu hari ini?”, tanya Laila akhirnya.
Suaranya dingin tetapi penuh emosi. Air mata mulai menggenang di sudut matanya.
Arman mencoba menahan air matanya sendiri, tetapi gagal. “Aku… aku takut, Laila. Takut Kakak sudah terlalu terlambat. Takut Kakak tidak diterima lagi.”
Laila memandangnya lama, sebelum akhirnya menghela napas panjang.
“Kakak memang terlambat. Tapi aku juga tahu, aku tidak ingin hidup terus-terusan menyimpan rasa sakit ini.” Dia mendekat, dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, dia merasakan pelukan hangat adiknya.
“Selamat datang kembali, Kak,” bisik Laila.
Di saat itu, Arman merasa semua yang selama ini hilang akhirnya kembali. Rumah ini, keluarga ini, adalah tempat dia seharusnya berada sejak awal. Rumah bukan hanya tempat untuk pulang, tapi tempat di mana cinta dan maaf menemukan jalannya.