Puasa, Kibo, dan Sebongkah Daging

Puasa, Kibo, dan Sebongkah Daging

Di sebuah desa kecil yang damai, hiduplah seekor kucing gendut bernama Kibo. Kibo bukan kucing biasa. Dia adalah kucing yang, entah bagaimana caranya, selalu berhasil mendapatkan makanan terbaik dari para penghuni desa. Dari ikan bakar, daging panggang, hingga susu segar, semuanya selalu tersedia di hadapannya. 

Tapi bulan Ramadan kali ini, Kibo memutuskan untuk ikut berpuasa bersama manusia.

“Kibo, kamu serius mau puasa?” tanya Pak Darto, pemilik rumah tempat Kibo sering tidur-tiduran.

Kibo hanya mengangguk pelan, matanya menyipit dengan ekspresi penuh tekad. 

Sejak awal Ramadan, Kibo terlihat lebih religius. Dia sering duduk di depan rumah sambil menatap langit sore, seakan sedang merenungkan hidupnya yang penuh kenikmatan duniawi.

Hari keempat Ramadan, suasana mulai berubah. Kibo mulai merasa lapar yang luar biasa. Perutnya yang besar mulai berbunyi seperti genderang perang. Setiap kali dia mencium aroma ikan asin dari dapur Bu Darto, matanya berair. 

Tapi dia tetap bertahan. Dia ingin membuktikan bahwa dia, Kibo si kucing gendut, bisa menjadi kucing yang disiplin.

Sore itu, Kibo duduk di teras, memandang semangkuk besar daging panggang yang telah disiapkan khusus untuknya. Di sebelahnya, ada teh manis dan sepiring kacang polong yang tampak sangat menggiurkan. 

Kibo menutup matanya, menyatukan kedua tangannya seperti manusia yang sedang berdoa. Suasana menjadi hening. Bahkan angin seolah berhenti berembus.

“Ya Tuhan, aku tahu aku ini hanya seekor kucing. Tapi tolong, berikan aku kekuatan untuk bertahan sampai adzan Maghrib. Jangan biarkan aku menyerah pada godaan duniawi ini,” gumam Kibo dalam hati, 

Tetangga-tetangga mulai berkumpul, penasaran melihat kucing gendut yang sedang khusyuk berdoa. Pak Darto pun keluar rumah sambil tertawa kecil.

“Lihat tuh si Kibo! Dia kayak ustaz lagi ceramah di depan makanannya sendiri,” katanya sambil menunjuk Kibo.

Tiba-tiba, suara adzan Maghrib berkumandang. Mata Kibo langsung terbuka lebar. Dengan kecepatan yang tidak pernah dilihat sebelumnya, dia langsung menyambar daging panggang itu. 

Tidak ada sisa, tidak ada jeda. Semua dilahap dalam hitungan detik. Para tetangga yang menonton tidak bisa menahan tawa.

“Kibo, itu buka puasa atau buka restoran?” tanya Bu Darto sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Namun, setelah makan, Kibo terlihat duduk termenung di teras. Matanya menatap jauh ke arah langit malam yang mulai dihiasi bintang-bintang.

“Apa yang terjadi sama dia?” bisik salah satu tetangga.

Pak Darto menghampiri Kibo, mengelus punggungnya dengan lembut. “Kenapa, Kibo? Kok tiba-tiba murung?”

Kibo hanya mengeong pelan, lalu menghela napas panjang. Kalau saja dia bisa berbicara, mungkin dia akan berkata, “Aku terlalu terbawa nafsu. Harusnya aku menikmati setiap gigitan dengan syukur, bukan seperti lomba makan.”

Sejak saat itu, setiap buka puasa, Kibo mulai makan dengan perlahan. Dia bahkan berbagi dagingnya dengan kucing-kucing lain di desa. 

Tetangga-tetangga semakin kagum dengan perubahan Kibo. Dia tidak hanya menjadi kucing religius, tapi juga kucing dermawan.

Namun, satu hal yang tidak berubah. Setiap sore menjelang buka puasa, Kibo selalu duduk di depan makanannya, mengatupkan tangan, dan berdoa dengan khusyuk. 

Setiap kali itu terjadi, para tetangga selalu berkumpul, tertawa, dan merasa terhibur oleh aksi kucing gendut yang penuh kejutan ini.

Lebih baru Lebih lama