Angin melolong di sela bebatuan tajam Lembah Keris, sebuah hamparan tanah mati yang mencengkeram langit seolah enggan dikubur. Sunyinya bukan main, hanya ada batu-batu karang yang terkikis, semak belukar kering, dan duri hitam yang meneteskan getah pekat.
Di jantung lembah itu, berdirilah sebuah keganjilan: Si
Pohon Berongga.
Sosoknya menjulang
tinggi tanpa sehelai daun pun, batang hitamnya retak-retak dengan guratan merah
redup yang berdenyut tiap kali bulan hilang. Di tengah batangnya, sebuah rongga
menganga lebar, cukup untuk menelan seorang pria dewasa bulat-bulat.
Elias sebenarnya bukan tipe pria yang percaya takhayul.
Tapi adiknya, Laras, sudah hilang tujuh hari lamanya. Jejak
terakhirnya cuma selembar selendang merah yang tersangkut di dahan berduri,
mengarah tepat ke pusat lembah terkutuk ini.
Orang-orang di Desa Kelabu berbisik soal "Mempelai
Bayangan" dan perjanjian gelap di masa lalu. Tapi bagi Elias, persetan
dengan itu semua. Dia cuma mau adiknya kembali.
Fajar hari kedelapan, Elias berangkat dengan modal seadanya: lentera
karatan, belati di pinggang, dan selendang merah Laras yang ia ikat kuat di
pergelangan tangan.
Lembah itu seolah menolak kehadirannya. Jalan setapak terasa
bergeser, bebatuan berubah posisi. Berjam-jam dia berputar-putar sampai akhirnya, seperti luka
yang menganga kembali, Si Pohon Berongga muncul di depan mata.
Udaranya mendadak dingin, bau besi berkarat bercampur tanah
basah. Untuk pertama kalinya, nyali Elias ciut. Tapi dia tetap melangkah masuk
ke dalam rongga itu.
Kegelapan langsung menyergap. Lenteranya pun mulai meredup saat dia menuruni
lorong akar yang melilit bak usus raksasa. Semakin dalam, suasana terasa
semakin... tua. Sesuatu
yang sudah ada sebelum manusia hadir.
Dia sampai di sebuah ruang bawah tanah yang luas, sebuah katedral dari tanah
dan akar. Di tengahnya, ada singgasana yang terbuat dari jalinan tulang manusia
dan hewan. Dan di sana, muncul sosok yang dia cari.
Laras.
Tapi ada yang salah. Mata adiknya keruh, wajahnya kaku
seperti mayat. Bibirnya dijahit rapat dengan benang perak yang berkilau. Elias
mau menghampirinya,
tapi tanah di bawahnya mendadak hidup. Akar-akar hitam melilit kaki dan
tangannya, mengunci posisinya dalam sekejap.
Bayangan itu bukan hantu. Dia adalah rasa lapar yang
menjelma menjadi seuatu yang
buas.
Elias jatuh berlutut saat proses "pertukaran"
dimulai. Pandangannya menggelap, suaranya hilang ditelan kerongkongan.
Lenteranya pecah, padam total. Namun, di sela-sela kesadarannya yang mulai
hancur, dia mendengar teriakan Laras yang
nyata. Benang perak di bibir adiknya lenyap. Elias telah membayar tebusannya.
Pohon Berongga bergetar hebat, mengeluarkan geraman yang
mematahkan tulang. Bayangan
tadi mundur ke dalam
kegelapan. "Pergi," desisnya pada Laras. "Sebelum aku
berubah pikiran."
Laras lari tunggang langgang, terus meneriakkan nama
kakaknya meski dia tahu Elias takkan pernah menjawab lagi. Begitu sampai di
permukaan, lembah itu mendadak terasa lebih tenang. Dia jatuh tersungkur di
semak duri dan menangis sampai habis air matanya.
Di belakangnya, Si Pohon Berongga kembali sunyi. Rongganya
sudah tertutup rapat, menyisakan kulit kayu hitam yang licin. Perutnya sudah
kenyang. Dia akan tidur lagi—untuk sementara.
Di Desa Kelabu, Laras tak pernah bercerita. Dia pergi
merantau jauh ke pesisir saat musim kemusim berganti. Tapi di tiap mimpinya,
dia selalu melihat pohon itu. Dan Elias.
Konon, kalau kabut lagi tebal-tebalnya di Lembah Keris,
pengembara sering melihat sosok pria berdiri diam di bawah pohon hitam itu.
Matanya hitam legam bak arang. Di pergelangan tangannya, ada selendang merah
yang terikat kuat dan
tak pernah pudar, semerah darah yang tak kunjung kering.
Dia tidak bicara. Dia cuma menunggu. Menunggu siapa pun yang
cukup bodoh untuk masuk ke dalam pelukannya yang dingin.
