Kisah Sunyi di Bawah Sinar Bulan

 

Kisah Sunyi di Bawah Sinar Bulan

Malam itu, bulan purnama menggantung seperti lentera raksasa di langit kelam. Air laut berkilauan, seolah menyimpan ribuan bintang yang jatuh. Di atas sebuah batu besar di tengah laut, ia duduk dengan anggun. 

Rambutnya yang panjang berwarna perak berkilau di bawah sinar bulan, melambai lembut terkena angin malam. Sebuah harpa kecil berada di tangannya, menghasilkan melodi yang lembut dan sendu, menyusup jauh ke dalam hati yang mendengarnya.

Aku berdiri di tepian pantai, terlindung oleh bayangan pohon kelapa yang bergoyang pelan. Jarak antara kami cukup jauh, tetapi suara harpa itu menjangkauku, mengisi udara dengan cerita yang tak terucap. 

Aku tahu itu dia—makhluk yang selama ini hanya kulihat terkurung di balik dinding kaca akuarium besar di pusat penelitian tempatku bekerja. Namun kini, ia bebas. Dan pemandangan ini begitu indah sekaligus memilukan.

Aku pernah menjadi penjaganya, atau setidaknya itulah yang mereka sebut tugasku. Tugasku adalah memastikan ia tetap hidup, tetap sehat, tetap menjadi objek penelitian yang sempurna. 

Namun, setiap kali aku menatap matanya dari balik kaca itu, aku merasa ia bukan sekadar makhluk yang perlu dijaga. Ia adalah jiwa yang terperangkap, sama seperti aku yang merasa terjebak dalam rutinitas hidup yang hampa.

Malam itu, aku melanggar aturan. Dengan tangan gemetar, aku membuka kunci akuarium, menuntunnya ke luar. Ia menatapku dengan sorot mata yang tak akan pernah bisa kulupakan—mata yang berbicara tentang rasa terima kasih dan juga rasa perpisahan. Tanpa sepatah kata, ia melompat ke laut, meninggalkan jejak riak kecil di permukaan air.

Kini, ia berada di hadapanku, meski jauh di tengah laut. Suaranya, melalui harpa itu, seperti memanggilku. Namun bukan panggilan untuk mendekat, melainkan panggilan untuk mengingat. Setiap nada yang ia mainkan adalah cerita tentang kebebasan, tentang kehilangan, dan tentang keberanian untuk melepaskan.

Aku merasakan air mata mulai mengalir di pipiku. Sebuah perasaan yang sulit dijelaskan menguasai hatiku. Aku tahu aku telah membuat keputusan yang benar dengan membebaskannya, tetapi ada rasa kosong yang tak bisa kuabaikan. Aku merindukan keberadaannya, meski kehadirannya dulu hanya berupa tatapan yang berbicara di balik kaca.

Ia berhenti memainkan harpa, menatap ke arahku. Aku tidak tahu apakah ia benar-benar bisa melihatku dari jarak ini, tetapi rasanya ia tahu aku ada di sini. Dalam sekejap, ia tersenyum—senyum yang begitu menenangkan sekaligus menghancurkan. 

Aku ingin meneriakkan sesuatu, tetapi kata-kata tercekat di tenggorokanku. Lalu ia melompat ke dalam air, menciptakan lingkaran riak yang perlahan menghilang di bawah sinar bulan.

Dan aku tahu, malam itu adalah terakhir kalinya aku melihatnya.

Aku terduduk di atas pasir basah, membiarkan ombak kecil menyentuh kakiku. Air mata yang jatuh semakin deras, tetapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya membuatku menangis. 

Apakah karena aku merindukannya, atau karena aku sadar bahwa kebebasannya adalah sesuatu yang tidak pernah kumiliki. Aku hanyalah manusia biasa, terikat oleh aturan, tanggung jawab, dan ketakutan yang membelenggu.

Namun di suatu tempat jauh di tengah laut, aku percaya ia sedang berenang bebas, menyatu dengan alam yang seharusnya menjadi rumahnya. Dan itu memberiku sedikit ketenangan.

Malam itu, aku menatap bulan hingga ia mulai tenggelam di balik cakrawala. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa mulai hari ini, aku akan belajar untuk melepaskan lebih banyak hal. 

Mungkin aku tidak bisa seberani dia, tetapi aku ingin mencoba. Karena pada akhirnya, bukankah hidup adalah tentang menemukan kebebasan, meski itu berarti harus meninggalkan sesuatu yang kau cintai? 

Lebih baru Lebih lama