Kembalikan Padaku

street ghost

Langit senja sudah berubah kelabu, dan angin dingin yang menusuk tulang mengiringi langkah-langkah tergesa Lisa di trotoar sempit. Ia menggenggam erat tasnya, mata berkali-kali melirik ke belakang. 

Kota ini memang bukan tempat yang asing, tetapi entah kenapa malam ini semua terasa berbeda. Jalanan yang biasanya ramai, kini terasa sunyi, seolah orang-orang tahu sesuatu yang ia tidak tahu.

Lisa mendengar suara berdesir dari balik pagar tanaman tinggi di sebelahnya. Langkahnya terhenti. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan debar jantungnya yang makin liar. 

"Hanya angin," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun. 

Namun, suara itu muncul lagi—lebih dekat kali ini, seperti sesuatu yang bergerak dengan pelan, sengaja.

Ia mempercepat langkahnya. Sepatu ketsnya menghantam aspal dengan irama tak beraturan. Lisa tahu, ada sesuatu yang mengikuti. Bulu kuduknya berdiri saat suara berat seperti dengusan napas muncul dari belakang pagar itu. Rasa takut merayap, dingin seperti es.

Saat ia hampir mencapai persimpangan, suara itu berhenti. Tapi rasa lega itu tak bertahan lama. Dari sudut matanya, Lisa melihat sesuatu bergerak. Ia menoleh cepat, dan napasnya tercekat.

Dari balik pagar, muncul sosok wanita berambut putih panjang, kulitnya pucat seperti kertas kusut, dengan mata kuning menyala seperti obor di tengah malam. 

Ia merangkak dengan gerakan kaku dan menyeret gaun lusuhnya yang penuh sobekan. Mata itu memandang Lisa, dan saat bibir hitamnya membuka, suara rendah bergema. 

"Kembalikan... kembalikan padaku..."

Lisa mundur selangkah, hampir kehilangan keseimbangan. 

"Apa? Aku... aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!" suaranya pecah, bercampur panik.

Sosok itu tidak menjawab, hanya mendekat dengan cara yang semakin tidak manusiawi—tangan dan kakinya melipat, bergerak seperti laba-laba. 

Bau busuk seperti daging yang lama membusuk tiba-tiba memenuhi udara. Lisa ingin lari, tapi tubuhnya seperti tertahan di tempat, kakinya berat seperti diikat rantai.

Teriakan memecah kebisuannya. Seorang polisi terlihat berlari dari kejauhan, senter di tangannya menyorot jalan. 

"Hei! Apa yang terjadi di sana?" teriaknya.

Sosok itu berhenti, lalu berbalik. Mata kuningnya berpendar menatap polisi yang semakin dekat. Lisa merasakan tubuhnya kembali bisa bergerak, dan tanpa pikir panjang, ia berlari ke arah polisi. 

"Tolong! Ada sesuatu—dia..." Suaranya menggantung saat ia menoleh ke belakang.

Sosok itu hilang. Hanya ada gerakan samar di semak-semak, seperti bayangan yang larut ke dalam kegelapan. Polisi itu mengerutkan kening, lalu memindai area dengan senternya. 

"Apa yang kau lihat?" tanyanya.

Lisa menggenggam lengan polisi itu erat, napasnya terengah. 

"Wanita... aneh. Dia bilang aku harus mengembalikan sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa yang dia maksud!"

Polisi itu menghela napas panjang, mungkin mengira Lisa hanya sedang paranoid atau berhalusinasi. 

"Sudah aman sekarang. Ayo, aku antar kau pulang."

Lisa mengangguk, tapi hatinya masih penuh dengan pertanyaan. Apa yang wanita itu inginkan darinya? Kenapa dia merasa seperti mengenalnya, meskipun ia yakin belum pernah melihat sesuatu seperti itu sebelumnya?

Malam itu, Lisa tidak bisa tidur. Matanya terus memandangi jendela, takut sosok itu muncul lagi. Tapi yang membuatnya lebih takut adalah perasaan bahwa wanita itu memang tidak akan berhenti sampai Lisa menemukan jawaban.

Esok paginya, ia memutuskan kembali ke tempat kejadian. Hatinya berat, tetapi dorongan untuk mencari tahu lebih besar daripada rasa takutnya. Di sana, ia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya hampir berhenti.

cermin kecil dengan bingkai perak beru

Di balik semak-semak tempat sosok itu menghilang, ada cermin kecil dengan bingkai perak berukir. Lisa mengambilnya, meskipun tangannya gemetar. Saat ia melihat ke dalam cermin itu, bayangannya sendiri tidak tampak. 

Sebaliknya, ia melihat sosok wanita itu—tersenyum sinis, dengan mata kuning yang menusuk seperti pisau.

Lisa menjatuhkan cermin itu dengan teriakan, tapi cermin itu tidak pecah. Suaranya hanya bergema di sekitar, seolah dunia ikut tertawa bersamanya.

Dan sejak hari itu, Lisa tahu, wanita itu tidak pernah pergi.

Lebih baru Lebih lama