I Knew I Loved You Before I Met You

I Knew I Loved You Before I Met You.

Aku tidak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama. Itu terdengar seperti dongeng yang dibuat-buat, sesuatu yang hanya terjadi dalam film atau novel picisan yang terlalu dramatis. Tapi semua itu berubah pada hari aku melihatnya untuk pertama kali.

Aku sedang duduk di sebuah kafe kecil di sudut kota, menyesap latte sambil membaca buku yang sudah lama ingin kuselesaikan. Hujan turun pelan-pelan di luar jendela, menimbulkan ritme lembut di atas aspal. 

Aku menyukai kesendirian, menikmati waktu sendiri tanpa gangguan. Hingga kemudian, dia masuk.

Dia mengenakan sweater abu-abu yang sedikit kebesaran, dengan rambut yang basah karena hujan. Matanya menelusuri ruangan sejenak sebelum akhirnya menemukan meja kosong di dekatku. 

Aku tidak tahu kenapa, tapi saat pandangan kami bertemu, aku merasa seolah-olah waktu berhenti. Ada sesuatu di matanya yang membuat dadaku bergetar, sesuatu yang aneh dan tak terjelaskan. Rasanya seperti aku pernah mengenalnya, entah di kehidupan yang mana.

Aku mencoba mengabaikan perasaan aneh itu dan kembali pada bukuku. Tapi otakku tidak bisa berkonsentrasi. Aku bisa merasakan kehadirannya, bisa mendengar setiap napas yang diambilnya, bahkan bisa mencium samar aroma kopi yang ada di depannya. 

Tanpa sadar, aku menoleh lagi. Saat dia tersenyum, aku tahu, aku tahu aku sudah jatuh cinta, meskipun aku tidak tahu siapa dia.

Hari-hari berlalu setelah pertemuan pertama itu, dan aku tidak bisa menghilangkan sosoknya dari pikiranku. Aku sering kembali ke kafe yang sama, berharap melihatnya lagi. 

Dua minggu kemudian entah itu takdir atau hanya kebetulan yang sangat baik, aku menemukannya duduk di meja yang sama seperti pertama kali kami bertemu. Kali ini, aku memberanikan diri untuk menyapa.

"Kamu suka kopi di sini?" tanyaku, mencoba terdengar santai meskipun jantungku berdetak terlalu kencang.

Dia menoleh dengan ekspresi terkejut, lalu tersenyum. "Iya. Aku suka tempat yang tenang. Dan kopi di sini… cukup enak."

Obrolan kecil itu berkembang menjadi percakapan panjang. Kami berbicara tentang banyak hal mulai dari buku, musik, mimpi, dan kehidupan. 

Semakin aku mengenalnya, semakin aku yakin bahwa dia adalah seseorang yang selama ini aku cari tanpa aku sadari. Dia memiliki sesuatu yang menggenapkan hatiku, sesuatu yang membuatku merasa pulang.

Aku tahu ini terdengar gila. Bagaimana bisa seseorang merasa seperti ini hanya dalam hitungan hari? 

Tapi aku tidak peduli. Aku percaya pada perasaan ini, sama seperti aku percaya pada napas yang kuambil dan detak jantung di dadaku.

Saat aku akhirnya menggenggam tangannya untuk pertama kali, dia menatapku dengan mata yang penuh kehangatan. 

"Apa kamu percaya bahwa beberapa orang memang ditakdirkan untuk bertemu?" tanyanya dengan suara pelan.

Aku mengangguk. "Aku tidak percaya sebelumnya. Tapi sekarang… aku tahu. Aku sudah mencintaimu bahkan sebelum aku mengenalmu."

Dia tersenyum, dan dalam sekejap, aku merasa seluruh dunia ada dalam genggamanku.

Dan di sanalah aku tahu jika aku telah menemukan rumahku.

Lebih baru Lebih lama