Hari itu, langit sore terlihat seperti lukisan yang belum selesai. Aku duduk di bangku taman, menggenggam secangkir kopi dingin yang sudah kehilangan rasanya karena terlalu lama dibiarkan. Mataku terpaku pada satu titik: kamu. Kamu berdiri …
Ada yang berubah di cara pandangku terhadap senja sejak bertemu Arwen. Sebelum mengenalnya, senja hanyalah peralihan waktu, transisi yang kerap kulewatkan tanpa banyak arti. Tapi sejak dia hadir, warna jingga di langit membawa narasi berbeda. …
Dia selalu duduk di bangku paling belakang kafe itu, menyeruput kopi tubruk yang harganya tak sampai seperempat dari secangkir latte yang biasa dipesan wanita itu. Tapi Rizal tak peduli. Baginya, cukup bisa memandanginya dari kejauhan, sesekali mencu…
Aku masih ingat malam itu. Bukan karena ada kejadian besar atau sesuatu yang dramatis, tapi karena semuanya terasa begitu sederhana. Kita duduk di bangku taman yang catnya mulai mengelupas, tanganmu dingin waktu menyentuh tanganku, dan kita hany…
Aku tidak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama. Itu terdengar seperti dongeng yang dibuat-buat, sesuatu yang hanya terjadi dalam film atau novel picisan yang terlalu dramatis. Tapi semua itu berubah pada hari aku melihatnya untuk pertama k…
Bayangan itu muncul lagi. Aku menoleh ke arahmu yang sedang tertawa kecil, tanganmu sibuk membolak-balik halaman buku yang mungkin sudah kau baca lebih dari tiga kali. Kau selalu seperti itu, mengulang kisah-kisah yang kau cintai, seperti ingin …
Dia pergi begitu saja. Tanpa kata-kata, tanpa penjelasan. Hanya sebuah pesan singkat yang tertinggal di layar ponselku: "Aku harus pergi. Maaf." Aku mencoba menelepon, tapi nomernya sudah tidak aktif. Aku mencoba mencari tahu di mana dia, t…
Langkahku terhenti di perempatan yang sama, seperti dulu. Angin malam membelai wajahku, mengingatkanku pada bau rambutnya yang selalu tercium saat ia berdiri di sampingku. Aku tak tahu kenapa harus ke sini lagi. Jalan ini tak punya janji apa-apa selai…
Hujan turun perlahan di desa kecil itu. Jalanan becek, namun suasananya tetap hangat karena warga saling menyapa dari balik jendela rumah kayu mereka. Di sudut desa, ada sebuah rumah tua yang hampir terlupakan. Pemiliknya, seorang kakek bernama Pak…
Rina menutup pintu dengan lembut, menghindari bunyi berisik yang mungkin membangunkan anak-anaknya. Langit di luar masih kelabu, pertanda malam belum sepenuhnya pergi. Ia menarik napas dalam, dinginnya udara pagi mengisi paru-parunya. Di genggamannya…
Hujan deras mengguyur pekarangan rumah yang dipenuhi dedaunan basah. Di balik jendela dapur yang berembun, seorang wanita paruh baya berdiri dengan segelas teh hangat di tangannya. Tatapan matanya jatuh pada putrinya, Nisa, yang duduk di meja makan de…
Aku duduk di teras rumah sambil memandangi hujan yang turun perlahan. Aroma tanah basah bercampur kopi hitam yang mulai mendingin di tanganku. Biasanya aku menikmati momen seperti ini, tapi sore ini ada sesuatu yang membuat pikiranku tidak tenang. Se…